Selasa, 13 Juli 2010

Abdullah Bin Mubarak Dan Mengusap Muka Setalah Berdoa

Di sini saya tidak ingin membahas Abdullah bin Mubarak, namun akan membahas masalah mengusap muka setelah berdoa.

Tidak henti-henti para mantan LDII ini berusaha menjelekkan LDII, dengan cara mengatakan bahwa cara ibadah LDII itu salah. Padahal, cara ibadah LDII ini juga dipraktekkan oleh hampir semua umat Islam. Artinya, mereka bukan hanya menjelekkan LDII, namun juga menjelekkan ibadah umat Islam pada umumnya?

Contohnya apa? Pada sekitar tahun 2008 lalu, mereka mengatakan bahwa hadits yang meriwayatkan bahwa mengangkat tangan saat berdo'a itu tidak ada yang shohih, ngaco, dibuat-buat, bid'ah, dan semacamnya. Padahal, bisa dikatakan hampir semua umat Islam berdo'a dengan mengangkat kedua tangannya. Yang tidak boleh dilakukan adalah berdoa dengan menggunakan punggung tangan seperti yang dilakukan oleh orang Nasrani. Jadi, apa yang mereka lakukan waktu itu saat berdoa? Ya hanya duduk diam dan mengatakan permintaannya.

Tapi kelihatannya sekarang mereka sudah sadar bahwabanyak hadits shohih yang meriwayatkan tentang mengangkat tangan ketika berdo'a. Sekarang, yang dipermasalahkan oleh mereka adalah mengusap muka setelah berdoa. Mereka mengatakan kalau hadits mengusap muka setelah berdoa tidak ada yang shohih (lihat artikel di bawah. Padahal, cukup banyak hadits tentang mengusap wajah setelah berdoa. Dan saya yakin, hampir semua umat Islam mengusap wajahnya ketika berdoa, kecuali mungkin orang-orang ini saja.

Contoh hadits tentang mengusap muka setelah berdoa:

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ حَفْصِ بْنِ هَاشِمِ بْنِ عُتْبَةَ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا دَعَا فَرَفَعَ يَدَيْهِ مَسَحَ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ

Telah menceritakan kepada Kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada Kami Ibnu Lahi'ah dari Hafsh bin Hasyim bin 'Utbah bin Abu Waqqosh dari As-Saib bin Yazid dari ayahnya, bahwa Nabi sholallohu 'alaihi wasallam apabila berdoa maka beliau mengangkat kedua tangannya dan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. (HR. Abu Daud).

Saya tidak mau capek-capek terlalu meladeni mereka dengan menampilkan terlalu banyak hadits. Namun saya juga tidak mau umat Islam pada umumnya menjadi sesat karena ulag mereka, maka sengaja saya tampilkan satu hadits di atas. Silakan jika ingin mencari hadits-hadits lainnya tentang mengusap muka setelah berdoa.

Berikut ini postingan mereka mengenai tidak adanya hadits yang shohih tentang mengusap muka setelah berdoa.

========================================

Ingatkah anda siapa Abdullah bin Mubarak?

Benar !!!!

Beliau lah yang berkata:

الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

‘Isnad itu bagian dari agama, seandainya tanpa isnad niscaya seseorang akan berkata apa saja yang dikehendakinya”.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullahu dalam Muqadimah:

وَحَدَّثَنِى مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قُهْزَاذَ - مِنْ أَهْلِ مَرْوَ - قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَانَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُ الإِسْنَادُ مِنَ الدِّينِ وَلَوْلاَ الإِسْنَادُ لَقَالَ مَنْ شَاءَ مَا شَاءَ

“Dan menceritakan kepada saya Muhammad bin Abdullah bin Quhjadz –dari penduduk Marwa- beliau berkata, mendengar ‘Abdan bin Utsman berkata, mendengar Abdullah bin Mubarak berkata, : ‘Isnad itu bagian dari agama, seandainya tanpa isnad niscaya seseorang akan berkata apa saja yang dikehendakinya”.

Tahukah Anda Ternyata Abdullah Bin Mubarak rahimahullahu Tidak Mengusap Wajahnya Setalah Berdoa karena menurut beliau hadits-haditsnya tidak ada yang shahih??!!!

Imam Baihaqi rahimahullahu dalam Sunan al-Kubro (2/212):

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ الْجَرَّاحِىُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ شَاسَوَيْهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْكَرِيمِ السُّكَّرِىُّ حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ زَمْعَةَ أَخْبَرَنِى عَلِىُّ الْبَاشَانِىُّ قَالَ : سَأَلَتُ عَبْدَ اللَّهِ يَعْنِى ابْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الَّذِى إِذَا دَعَا مَسَحَ وَجْهَهُ ، قَالَ : لَمْ أَجِدْ لَهُ ثَبَتًا

Mengkhabarkan kepada kami Abu Abdillah Al-Hafizh, mengkhabarkan kepada kami Abu Bakar Al-Jarahi, menceritakan kepada kami Yahya bin Syasawaih, menceritakan kepada kami Abdulkarim As-Sukari, menceritakan kepada kami Wahab bin Jam’ah, mengkhabarkan kepada saya Ali Al-Basyani yang berkata: Ditanya Abdullah yaitu Ibn Mubarak tentang orang yang berdoa kemudian mengusap wajahnya, beliau berkata: “Aku tidak mendapati perbuatan itu memiliki sumber yang jelas”.

Maksudnya, beliau meyakini bahwa perbuatan mengusap muka setelah berdoa tidak termasuk sunnah karena riwayatnya lemah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam Majmu’ Fatawa (22/519) menyetujui ini, beliau berkata:

وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ : فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ وَأَمَّا مَسْحُهُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ فَلَيْسَ عَنْهُ فِيهِ إلَّا حَدِيثٌ أَوْ حَدِيثَانِ لَا يَقُومُ بِهِمَا حُجَّةٌ وَاَللَّهُ أَعْلَمُ

“Banyak hadits shohih yang menceritakan bahwasannya Rosululloh shallallahu’alaihi wasallam mengangkat tangannya saat berdo’a, adapun mengenai mengusap wajah dengan telapak tangan seusai berdo’a, maka cuma ada satu atau dua hadits yang lemah tidak bisa dijadikan sebagai hujjah, wallahu'alam”.

Begitu pula menurut Ulama Haramain dan juga Mufti Arab Saudi yang terdahulu, Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullahu dalam Fatawa Islamiyah (4/229):

فالمقصود أن المسح ليس فيه أحاديث صحيحة فلم يفعله النبي ، - صلى الله عليه وسلم - ، في صلاة الاستسقاء ولا في غيرها من المواقف التي رفع فيها يديه كموقفه عند الصفا والمروة وفي عرفات وفي مزدلفة وعند الجمار لم يذكروا أنه مسح وجهه بيديه لما دعا فدل ذلك على أن الأفضل ترك ذلك وبالله التوفيق .

Kesimpulannya tidak ada satupun hadits shohih yang mensyariatkan mengusap wajah selesai berdo’a, Rosululloh shallallahu’alaihi wasallam tidak pernah melakukannya baik saat sholat istisqo’, juga tidak pada saat lainnya misalnya saat berada di Bukit Shofa, Marwa, di Padang Arafah, Muzdalifah dan melempar jumroh. Maka lebih baiknya hal itu ditinggalkan. wabilahitaufiq”.

Begitu pula menurut ahli hadits lainnya seperti Muhadits Abad Ini Syaikh Nasiruddin Al-Albani rahimahullahu (lihat Irwa'ul Ghalil (2/178-182)) dan Anggota Kibar Ulama dan Komisi Fatwa Arab Saudi terdahulu Syaikh Bakr Abu Zaid rahimahullahu (rujuki kitabnya Juzun fi Mash Al-Wajhi bi Al-Yadaini Ba’da Raf’ihima Ad-Du’a) dan ulama-ulama terdahulu maupun yang sekarang.

Dan Abdullah bin Mubarak rahimahullahu adalah orang yang sangat zuhud, banyak beribadah dan berhati-hati dalam agamanya sebagaimana diriwayatkan dalam kitab-kitab tarikh. Dan beliau tidak lah merasa sombong dengan amalnya itu, tidak pula merasa besar dan tinggi hati, beliau tidak sebagaimana keadaan Khawarij di zaman ini, yaitu orang-orang yang terlalu percaya diri dengan meyakini setiap amalnya pasti diterima !!!! walaupun pada kenyataannya banyak sekali mengamalkan bid’ah dan khurafat bahkan kesyirikan tanpa mereka sadari. Pada satu sisi mereka Khawarij dan pada sisi yang lain mereka juga Murji’ah.

Dan pernah Ibnu Mubarak rahimahullahu bertemu orang yang berpemahaman Khawarij dizamannya yang mirip dengan ini sebagaimana diriwayatkan Imam Ash-Shabuni rahimahullahu dalam Aqidah Salaf Ashabul Hadits no. 110 :

وسمعت أبا جعفر محمد بن صالح بن هانيء يقول: سمعت أبا بكر محمد بن شعيب يقول: سمعت إسحاق بن إبراهيم الحنظلي يقول: قدم ابن المبارك الري فقام إليه رجل من العباد، الظن أنه يذهب مذهب الخوارج، فقال له: يا أبا عبد الرحمن ما تقول فيمن يزني ويسرق ويشرب الخمر؟ قال لا أخرجه من الإيمان، فقال: يا أبا عبد الرحمن على كبر السن صرت مرجئا؟ فقال: لا تقبلني المرجئة. المرجئة تقول: حسناتنا مقبولة، وسيئاتنا مغفورة، ولو علمت أني قبلت مني حسنة لشهدت أني في الجنة

Dan mendengar Abu Ja’far Muhammad bin Sholih bin Hani’a berkata: mendengar Abu Bakar Muhammad bin Syu’aib berkata: mendengar Ishaq bin Ibrohim Al-Handhali berkata: bahwa Ibn Mubarak suatu waktu datang ke kota. Salah seorang ahli ibadah tiba-tiba mendatanginya –yang diperkirakan penganut madzhab khawarij-, lalu berkata kepadanya, “Wahai Abu Abdurahman, apa pendapatmu terhadap seorang pezina, pencuri, dan peminum khamer?”. Beliau menjawab, “Aku tidak mengeluarkan mereka dari keimanan”. Maka lelaki itu menukas: “Wahai Abu Abdurahman, sudah tua-tua begini kamu malah jadi murji’ah (yang mengatakan iman terpisah dari amal -pen)”. Beliau menimpali, ”Tidak, justru kami bersebrangan dengan orang murji’ah. Mereka mengatakan: ‘Kebajikan-kebajikan kita pasti diterima, sedangkan kejahatan-kejahatan kita pasti diampuni’. Seandainya aku (Ibn Mubarak) tahu bahwa kebajikanku sudah diterima, niscaya aku bersaksi bahwa aku masuk jannah”.

Atsar ini dalam Risalah Al-Ghoniyah karya Imam Al-Khothobi rahimahullahu hal. 47.

Maka perhatikanlah wahai Khawarij!!!

Kembalilah kepada mazhab salaf…. Jangan lah engkau mencaci salaf dan mazhabnya sedangkan engkau tidak mengetahui ilmunya …. Melecehkan sedangkan engkau tidak pernah menelaah secara mendalam!!! Mengolok-ngolok padahal kalian jahil !!!

Seandainya Abdullah bin Mubarak rahimahullahu bertemu dengan kalian, niscaya beliau akan berkata kepada kalian sebagaimana perkataan beliau pada seseorang di zamannya. Diriwayatkan oleh Muslim rahimahullahu dalam Muqadimah :

وَقَالَ مُحَمَّدٌ سَمِعْتُ عَلِىَّ بْنَ شَقِيقٍ يَقُولُ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْمُبَارَكِ يَقُولُ عَلَى رُءُوسِ النَّاسِ دَعُوا حَدِيثَ عَمْرِو بْنِ ثَابِتٍ فَإِنَّهُ كَانَ يَسُبُّ السَّلَفَ.

Dan berkata Muhammad, aku mendengar Ali bin Syaqiq berkata, aku mendengar Abdullah ibn Mubarak berkata kepada orang-orang: “Tinggalkanlah oleh kalian haditsnya Amr ibn Tsabit karena ia telah mencaci salaf !!!!”. <*>